Kementerian Keuangan Salurkan Bansos Rp61.4 T

Kementerian Keuangan Salurkan Bansos Rp61,4 T

Kementerian Keuangan Salurkan Bansos Rp61.4 T

Kementerian Keuangan Salurkan Bansos Rp61.4 T. Kementerian Keuangan Sri Mulyani menyebut penyaluran dana bantuan sosial (bansos) sudah tembus Rp61,4 triliun pada Mei kemarin. Angka itu sudah naik 30,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp54 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan kenaikan belanja bansos sudah sesuai dengan pola yang sangat diharapkan pemerintah.
Ia merincikan alokasi dana belanja bantuan sosial (bansos) yang penyalurannya paling besar digunakan untuk menyalurkan program jaminan sosial antara lain Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sebesar Rp31,6 triliun. Besaran itu sudah naik dari Mei tahun lalu yakni Rp30,3 triliun.

Belanja bansos ini sudah disalurkan melalui beberapa kementerian. Data Kementerian Keuangan menyebutkan alokasi bansos paling besar yakni pada Kementerian Sosial mencapai Rp45,5 triliun. Jumlah itu naik 69,3 persen dari Mei tahun lalu yakni Rp26,9 triliun. IDNPlay APK Versi Terbaru

Kementerian Kesehatan sebesar Rp24,3 triliun dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebesar Rp8,6 triliun. Kemudian, bansos untuk perlindungan sosial seperti program keluarga harapan (PKH) sebesar Rp19,5 triliun, turun tipis dari Rp19,6 triliun di Mei 2019.

Pemerintah juga mengalokasikan belanja bansos untuk pemberdayaan sosial senilai Rp1,3 triliun, serta rehabilitasi sosial dan penanggulangan bencana masing-masing Rp100 miliar.

“Pembayaran iuran PBI melalui BPJS Kesehatan sudah dilakukan, dimajukan dengan peraturan presiden yang baru” imbuhnya.”Belanja bansos mengalami kenaikan tinggi karena untuk bantuan sosial ke masyarakat yang terdampak Covid-19,” ujarnya melalui paparan virtual.

Selain itu, dana juga digunakan untuk bansos penanggulangan kemiskinan seperti kartu sembako yakni Rp26,3 triliun. Jumlahnya melonjak hingga 254,3 persen dari Mei 2019 yakni Rp7,4 triliun.

Sri Mulyani Proyeksi Laju Ekonomi Kuartal II Minus 3,1 Persen

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, Indonesia sama halnya dengan banyak negara di dunia yang ekonominya terdampak pandemi virus corona.”Dengan pertumbuhan ekonomi negatif pada kuartal II, sangat berat untuk tetap menjaga ekonomi selalu positif. Semua lembaga membuat proyeksi ekonomi negatif, hanya sedikit yang positif,” tutur Sri Mulyani.

Pertumbuhan negatif produk domestik bruto (PDB) banyak negara itu tak terlepas dari peningkatan kasus orang terinfeksi corona usai pembukaan aktivitas atau kegiatan.

Tidak terkecuali di Indonesia yang mencatat peningkatan jumlah orang yang ditolak Covid-19, terutama di DKI Jakarta dan Jawa Timur. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jumlah kasus positif mencapai 39.294. Diambil 2.198 orang meninggal, dan 15.123 orang sembuh.

Lebih buruk dari produk domestik bruto (PDB) banyak negara tidak terlepas dari peningkatan kasus orang bebas corona usai membuka aktivitas atau kegiatan. Ia mencontohkan AS yang mencatat kematian lebih dari 115 ribu orang dengan 2,16 juta kasus positif.

“Kami sangat mengharapkan ini tidak akan menyebar lebih luas lagi, karena akan sangat banyak menyebabkan kesulitan normalisasi,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *