Keistimewaan Suspensi Depan Upside-down

Keistimewaan Suspensi Depan Upside-down

Tren Suspensi Upside-down

Keistimewaan – Suspensi depan Upside-down kerap menjadi nilai plus dari sebuah sepeda motor. Biasanya, jenis ini digunakan dalam motor high-performance. Meski demikian, ada juga beberapa motor entry-level yang juga debekali suspensi upside-down.

Secara kasat mata, suspensi upside-down terlihat seperti suspensi teleskopik atau biasa yang dibalik. Jadi, inner tube atau pipa kecil berada di bawah, sedangkan outer tube yang diameternya lebih besar berada di atas.

Baca juga : Fungsi CDI Pada Motor, untuk Rider Lebih Tahu

Lantas, apa kelebihan suspensi upside down? Dilansir dari Bikesmedia.in, peredam kejut jenis ini diklaim lebih stabil ketimbang teleskopik ketika sepeda motor melaju dalam kecepatan tinggi. Meski demikian, ada juga motor adventure yang menggunakan suspensi upside down, salah satunya BMW G310GS.

Kelebihan lainnya, suspensi upside down menawarkan handling yang lebih baik. Karena diameter outer tube yang lebih besar, kostruksi bagian depan sepeda motor pun semakin kuat.

Sayangnya, untuk meningkatkan stabilitasnya, pantulan suspensi upside down menjadi lebih keras. Selain itu, harga yang dipatok lebih mahal ketimbang suspensi teleskopik. Seal oli suspensi juga lebih cepat rusak karena ada pengaruh gravitasi.

Kelebihannya

Lantas, apa kelebihan suspensi jenis ini dibanding suspensi biasa? Apa pula kekurangannya? Tovan, mekanik Bengkel Shock Semarang yang terletak di Jalan Raya Bogor, KM 27, Jakarta Timur, mengatakan bahwa kelebihan suspensi ini terasa jika motor dikendarai pada kecepatan tinggi.

“Umumnya kalau buat motor sport (berkecepatan tinggi), tidak goyang. Makanya memang kurang pas kalau digunakan di motor sehari-hari yang sering kena macet,” ujar Tovan, kepada Liputan6.com beberapa waktu yang lalu.

Hal ini, ujar Tovan, disebabkan karena posisi tabung atas yang lebih besar. Posisi ini membuat suspensi mampu meredam lebih banyak getaran dibanding model teleskopik konvensional.

Di samping itu, shock ini juga punya kelemahan, yaitu `bantingan` yang lebih keras, apalagi jika melewati jalanan yang rusak. “Jadi suspensi ini agak gampang penyok dan patah,” tambah Tovan.

Karena itu, ujar Tovan, suspensi tersebut tidak cocok di semua jenis motor. Motor yang cocok untuk suspensi ini harus punya bobot yang ringan.

Kekurangan lain suspensi upside down adalah harga yang mahal. “Kelemahan lainnya itu tidak semua orang bisa beli. Bayangkan saja, ada suspensi yang untuk Ducati harganya sampai Rp 48 juta. Pasangnya saja biayanya Rp 200 ribu. Padahal secara teknis sama saja dengan suspensi biasa,” aku Tovan.

Sumber : otosia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *